Pria Berusia 101 Tahun Ini Sanggup Lari 10 Km Dalam 1,5 Jam

Sungguh luar biasa pelari kelahiran India, Fauja Singh, ini. Dalam usianya yang sudah 101 tahun dan disebut-sebut sebagai pelari maraton tertua di dunia, ia masih sanggup melahap lari sejauh 10 kilometer di Hongkong, Minggu (24/02/2013), dalam waktu 1 jam, 32 menit, 28 detik. Itu menjadi penampilannya yang terakhir di lintasan lari.

Ia pensiun menjelang hari ulang tahunnya ke-102, yang jatuh pada 1 April mendatang. “Saya akan mengenang hari ini. Saya akan merindukannya,” kata Singh, beberapa menit setelah melintasi garis finis.

“Hari ini adalah hari paling menggembirakan hidup saya.”

Penampilannya dalam lari 10 kilometer itu merupakan bagian dari ajang Standard Chartered Hongkong Marathon.

Pelari warga Sikh itu berlari mengenakan serban khas pria Sikh. Jenggot putihnya berkibar diterpa angin. Saat tampil, ia diiringi sekelompok anggota komunitas lokal Sikh, bergabung bersama sekitar 72.000 pelari yang ambil bagian dalam maraton tersebut. Singh menegaskan, ia pensiun setelah penampilannya tersebut. Dalam usianya yang lebih dari satu abad itu, ia telah memiliki cicit.

Pria berjuluk “Torpedo Berserban” itu menjadi pelari tertua saat tampil penuh pada maraton di Toronto tahun 2011 dalam usia 100 tahun. Namun, rekor itu tidak diakui Guinness World Records karena Singh tidak memiliki sertifikat tanda kelahiran.

Ia memegang paspor Inggris, yang mencantumkan tanggal kelahirannya pada 1 April 1911, tetapi surat petugas pemerintahan India menyatakan, data-data kelahiran pada 1911 tidak tersimpan.

“Saya merasa campur aduk antara agak gembira dan sedikit sedih. Saya gembira karena pensiun dalam puncak laga, tetapi saya sedih karena sudah tiba waktu bagi saya untuk tidak lagi menjadi bagian dari laga,” ujar Singh dalam wawancara sebelum tampil dalam lari terakhirnya di Hongkong itu.

“Dan selalu akan berulang di masa-masa mendatang saat saya berfikir, ‘Ya, saya pernah melakukan itu (lari)’,” tambahnya dalam bahasa Punjabi yang diterjemahkan pelatihnya, Harmander Singh.

Singh menjadikan lari sebagai jalan mengatasi depresi setelah istri dan anak laki-lakinya meninggal dalam waktu hampir bersamaan di India. Kematian anak laki-lakinya pada 1994 meninggalkan kesedihan lebih dalam bagi Singh karena kematiannya yang tragis.

Ia dan Kuldip, anak laki-lakinya, tengah memeriksa lahan tanahnya di tengah badai. Tiba-tiba sebuah potongan baja bengkok yang diempaskan angin topan memenggal leher Kuldip di depan mata Singh. Singh sempat hidup sebatang kara setelah lima anaknya yang lain pindah ke luar negeri.

“Tanpa anak laki-lakinya, ia merasa hidupnya tidak berarti lagi,” ujar Harmander Singh, pelatihnya. Fauja Singh akhirnya hidup dan tinggal di London bersama anak laki-laki bungsunya.

Di ibu kota Inggris inilah, ia tampil pada turnamen-turnamen lari yang digelar komunitas Sikh. Ia awalnya tampil pada nomor jarak dekat (sprint). Suatu hari, ia untuk pertama kali melihat tayangan lari maraton di televisi. Sejak itu ia ingin tampil pada ajang maraton.

Tahun 2000, dalam usianya 89 tahun, ia ambil bagian dalam Maraton London, salah satu ajang maraton bergengsi di dunia. Setelah itu, ia tampil delapan kali lagi pada ajang tersebut. Catatan terbaiknya pada nomor maraton adalah 5 jam, 40 menit saat tampil di Maraton Toronto.

“Dari sebuah tragedi, datang banyak sukses dan kegembiraan,” ujar Singh. Ia menjelaskan, betapa lari telah mengubah hidupnya: dari seorang petani yang buta huruf menjadi pria yang bisa berkeliling dunia, bertemu tokoh-tokoh penting, dan tinggal di berbagai hotel bintang lima.

Setelah pensiun dari dunia lari, hanya satu keinginannya. “Orang akan terus ingat dan tidak melupakan saya,” ujar Singh.

Ia pun ingin tetap diundang dalam ajang-ajang lari. “Itu lebih baik daripada melupakan saya sama sekali hanya karena saya tidak tampil lari lagi.”

  • yang mampir

    • 1,270,355 sejak 01/01/2009
  • dipilih,,,dipilih,,,




  • RSS news.detik

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.