Kini Google Translate Bisa Nerjemahin [[Ke]] Dan [[dari]] Bahasa Indonesia…

Nafsu Kakek Kadaluwarsa

Agaknya Mbah Karjo, 75, berfikir, janda usia 50 tahun pasti kegatelan. Tapi ternyata meski dirayu sampai seribu kali, Ny. Lasmi tak mau juga bertekuk lutut dan berbuka paha. Begitu kesalnya si kakek kadaluwarsa ini, janda tetangga sendiri tersebut langsung dibacok saat tidur. Biar jadi urusan polisi, tapi puas!

Tetangga idola bagi Mbah Karjo tak ada lain hanyalah Jeng Lasmi. Soalnya, biar usia sudah setengah abad, tapi bodinya masih mulus, pantat kentel pula. Wajahnya yang ayu, sering menjadi santapan si kakek di balik kaca nako, manakala sijanda belanja ke warung sebelah. Ya, Mbah Karjo memang suka mencuri-curi pandang pada Jeng Lasmi ini, karena malu pada anak dan cucu-cucunya. Apa kata orang nanti, sudah tua bangka bau tanah masih berburu janda. Padahal sejatinya, urusan perempuan tak pernah pandang usia, semuanya suka!

Istri Mbah Karjo ke mana? Wooo, sudah tinjo kerat (meninggal) sejak 10 tahun lalu. Jadi sebetulnya sudah terlalu lama si kakek ini mengadakan “gencatan senjata” tanpa sepengetahuan PBB. Ingin sekali dia menabuh genderang perang kembali, tapi siapa lawan? Terus terang saja, Mbah Karjo kurang pede mendekati cewek gadis maupun janda. Masalahnya ya itu tadi, pasti dianggap kakek ora nyebut (tak punya iman). “Iman sih aku punya, tapi “si imin” yang tak bisa diajak kompromi,” kata batin Mbah Karjo.

Karena sudah kepepet, pada akhirnya Mbah Karjo berpikir endi sing ana (mana yang ada) sajalah, alias seadanya. Dengan kriteria demikian, dia kemudian mengincar janda sebelah rumah, yang usianya juga belumlah begitu tua, cenderung masih STNK (setengah tuwa ning kepenak = setengatua tapi masih enak). Nama janda itu Sulasmi, tapi Mbah Karjo suka memanggilnya: Jeng Lasmi. Biar nampak berkelas, begitu. Kalau Mbah Karjo ini kaya, pastilah dia diberinya “Karjo Award”. Karena diam-diam Jeng Lasmi ini juga sosial sekali orangnya.

Apa dasarnya dianggap sosial? Ya setidaknya sering memberi pada si kakek dari Desa Plajan Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara (Jateng) ini. Makanan yang empuk-empuk sesuai kemampuan gigi Mbah Karjo, sering dikirim sebagai oleh-oleh pulang dari kampung. Kadang pisang, sukun, petai. Sering pula dikirimi rengginang goreng, tapi Mbah Karjo harus ngekum (merendam) dulu barang seminggu.

Hanya saja Mbak Karjo ini ngelunjak jadinya. Suka pada oleh-olehnya, kemudian suka pula pada orangnya. Asal situasinya mantap terkendali, lepas dari pengawasan anak cucu, dia merayu-rayu Jeng Lasmi untuk diajak hubungan intim bak suami istri. Tentu saja si janda menolak. Segatel-gatelnya dia, masak mau dengan kakek jompo yang jadi hakim agung di Merdeka Utara saja lewat umur. “Kakehan reka Mbah Mbah, apa isih isa (banyak ulah, memangnya masih bisa)?,” kata Jeng Lasmi sambil pergi.

Keterlaluan Jeng Lasmi, masih gagah begini dianggap loyo. Padahal Mbah Karjo merasa, biar tua begini dia masih rosa-rosa macam Mbah Maridjan. Untuk kesekian kalinya lagi dia merayu dan merajuk, tapi Lasmi tetap bersikukuh tak mau bertekuk lutut dan berbuka paha untuk Mbah Karjo. Kakek bernafsu kadaluwarsa ini jadi kalap. Dia ingin mencelakai Jeng Lasmi. Benar saja, saat janda STNK itu tidur siang pukul 14.00 hari Kamis (11/12) dulu, langsung dibacok golok, bet. Sementara Jeng Lasmi dilarikan ke RSU Jepara, Mbah Karjo ditangkap keesokan harinya di Desa Kopen Pakis Aji.

Umur boleh tua, nafsu tetap menggebu ya Mbah?

  • yang mampir

    • 1,507,167 sejak 01/01/2009
  • dipilih,,,dipilih,,,




  • RSS Umpan yang Tidak Diketahui

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.