Bala Angkara Murka Kepung Nusantara

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran. tanah jawa kalungan wesi. Prahu mlaku ning dhuwur awangawang. Kali ilang kedhunge. Pasar ilang kumandhange. iku tanda yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.

Ramalan Jayabaya memang selalu didengungkan oleh sebagian besar spiritualis di nusantara ini. Kebenaran ramalan yang diyakini memiliki aura mistis hakiki seolah menjadi rujukan utama untuk membuka jalan kehidupan yang fana ini. Lihat saja berbagai macam bencana alam, kejadian, bahkan tingkah laku manusia dan kehidupannya pun telah diramalkan secara tepat dalam kidungnya.

Penggambaran ramalan Jayabaya dengan kehidupan saat ini memang erat kaitannya. Banjir bandang, banjir rob, bencana longsor, gempa bumi dan kejahatan manusia seolah telah menjadi pertanda akan datangnya zaman yang telah diramalkan. “Rusaknya suatu negeri, raja bertanggung jawab. Rusaknya moral atau akhlak suatu bangsa, para begawan atau pandhita lah  (ulama) yang bertanggung jawab. Demikian kira-kira petuah agung para leluhur kita yang telah berjasa terbukti membesarkan nusantara ini.

Di zaman keemasan Praja Agung Majapahit, peringatan atau warning dari Sang Maha Pencipta juga selalu ada. Bahwa manusia-manusia terutama pemegang amanah suci rakyat kecil, saat ini harus bersujud, tobat yang sebenar benarnya tobat dan bukan hanya sekedar tobat seremonial yang cuma mencari keduniawian. (uang dan popularitas)

“Mari kita belajar malu, malu kepada diri sendiri terutama malu kepada Tuhan. Celakanya budaya atau sifat malu ini tampaknya sudah tidak dimiliki oleh pemimpin-pemimpin priyagung terhormat negeri ini. Dan, jangan salahkan alam pun bertindak atas keserakahan dan keangkaramurkaan di negeri Jamrud Khatulistiwa ini.”

“Saat ini musibah akan terus berdatangan, bencana masih akan berjalan terus, bak bola salju yang terus menggelinding. Dan, hal ini sudah diprediksi dalam suatu babad, serat, kidung yang t ditulis sebagai acuan atau peringatan oleh para leluhur kita yang telah mumpuni kehidupan lahir batinnya.  Jayabaya, Ronggowarsito, Mangkunegoro, Sabda palon, dan lainnya. Mereka sudah memberikan teladan dan bimbingan kepada para anak cucunya. Sekarang tinggal kita yang melakoninya.”

Apapun bentuk musibah memang tak lepas dari kehendak Tuhan. Namun kata orang bijak, musibah yang terjadi di dunia seringkali akibat ulah manusia sendiri. Dalam konteks indonesia, dalam pandangan sejumlah pakar adalah akibat salah urus. Boleh jadi negeri yang luas dan sebetulnya kaya raya dengan sumber daya alam dan manusianya ini, telah salah kelola.

Sementara itu, musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di berbagai daerah misalnya, diyakini lantaran rusaknya hutan akibat pembalakan liar yang dilakukan pengusaha kayu/hutan. Hutan ditebangi dan menjadi gundul. Tak ada lagi penahan tanah serta resapan air sehingga menyebabkan banjir dan longsor.

“Nusantara sudah tak indah lagi. Nusantara dah diselimuti bala angkara murka.  Semua terjadi karena memang manusia telah serakah. Manusia Nusantara sudah tidak lagi menghargai ciptaan Tuhan. Saat ini, manusia nusantara seakan digelontor masalah yang pelik, darah dan nyawa setiap waktu melayang tanpa ada peringatan.”

“Sementara, para umara dan ulama sepertinya hanya terpanah dengan semua kejadian ini. Mereka tak lagi memilik naluri untuk segera mengajak, memerintahkan, dan mengerahkan pengikutnya untuk mengadakan taubatan nasuha , untuk kembali ke jalan Allah, mengadakan tahlil akbar, mengadakan doa-doa meminta pertolongan allah. Agar bangsa ini dihindarkan dari segala bencana yang terus mendera.

3 Komentar

  1. Kehendak Tuhan Ataukah Hidden Agenda Kegiatan Intelijen Kapitalisme Internasional

    Tak cukup hanya dengan do’a, istighozah ataupun tahlil tapi perlu upaya dan kerja keras dari kita bersama untuk mengembalikan Nuswantara pada kejayaannya yang gilang gemilang.

    Tabik…🙂

  2. Salam kenal.
    Terima kasih telah meninggalkan jejak di nusantara news. Oleh karena itu, saya telah memasukkan link Saudara di link blogroll saya agar kedepan dapat berkomunikasi lebih lanjut
    Salam nusantara yang lebih baik.

  3. kalo kita menengok sejarah kejayaan kerajaan di javadwipa dan merenungkan pralaya besar yang pernah terjadi, mungkin kita akan sadar mengapa pralaya yang sekarang tiada henti. sangat mungkin penyebabnya adalah ketamakan dan kemunafikan manusia indonesia yang secara kasap mata bisa ditemukan dimana-mana. Orang bisa bicara banyak demi kawulo alit tapi faktanya untuk pelantikan dewan di senayan akan memakan biaya lebih dari Rp. 43m sementara itu ada berjuta-juta orang Indonesia yang miskin bin lapar. Orang bicara ilegal lodging, faktanya truk pengangkut kayu ilegal lewat saja di depan kantor-kantor instansi pemerintah. Orang banyak bicara pemberantasan koropsi, faktanya barang-barang bajakan dijual di sekitar/di depan/ di sekitar kantor penegak keadilan. Akhirnya kita semua yang jauh dari katamakan dan kemunafikan harus ikhlas menanggung akibatnya demi BADUT-BADUT terhormat yang berseragam, berjas kain mahal,tamak dan munafik dan sangat mungkin tulisan ini jadi bahan tertawaan BELIAU-BALIAU BADUT-BADUT TERHORMAT!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • yang mampir

    • 1,477,859 sejak 01/01/2009
  • dipilih,,,dipilih,,,




  • RSS Umpan yang Tidak Diketahui

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • %d blogger menyukai ini: