Persiku Takluk 1-3 dari PSIM

Tuan rumah Persiku Kudus harus mengakui keunggulan tamunya, PSIM Yogyakarta, setelah menyerah 1-3 pada laga perdana Kompetisi Sepak Bola Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010, di Stadion Wergu Wetan, Kudus, Kamis.

PSIM yang lebih diunggulkan dalam hal kualitas pemain, tanpa kesulitan menguasai jalannya permainan sejak babak pertama dimulai.

Serangan bertubi-tubi langsung dilancarkan tim tamu hingga mendekati pertahanan Persiku yang dikawal Cucun Sulistiyo dan kawan-kawan.

Kiper Persiku Ibrohim harus jatuh bangun menahan gempuran tim tamu yang berjuluk “Laskar Mataram”.

Keunggulan kualitas pemain PSIM Yogyakarta dibuktikan dengan gol Bayu Andra Cahyadi pada menit ke-34.

Gol tercipta berkat tendangan sudut yang di peroleh anak asuh Jefri Janes, yang tak mampu dibendung pemain tuan rumah.

Ribuan suporter tuan rumah kembali dibuat tertegun sesaat setelah tendangan terukur Wawan Sucahyo pada menit ke-39, mengarah tepat di sudut kanan gawang yang tidak dapat dijangkau Ibrohim, sehingga membuat kedudukan 2-0 untuk keunggulan tim tamu.

Sejak awal, para pemain Persiku kesulitan mengembangkan permainannya meski berada di depan publik sendiri, sehingga penguasaan bola mudah direbut pemain lawan.

Kondisi tersebut diperparah dengan koordinasi pemain antarlini yang terlihat kurang padu, sehingga para pemain lawan mudah membaca arah setiap serangan yang dibangun tuan rumah.

Namun ribuan suporter tuan rumah sempat dibuat bersorak ketika sundulan pemain mungil Khanafi berhasil menghasilkan gol yang memperkecil kekalahan pada menit ke-41.

Khanafi merupakan pemain yang baru masuk pada menit ke-40 menggantikan Joko Purnomo yang dianggap tak bermain maksimal, sehingga harus ditarik keluar oleh pelatih Persiku, Welly Podungge.

Memasuki babak kedua, Persiku berupaya mengambil inisiatif serangan untuk mengejar ketinggalannya.

Namun, upaya para pemain Persiku membangun serangan dari berbagai lini gagal menembus barisan pertahanan tim tamu yang dijaga oleh Sumarjono dan kawan-kawan.

Serangan bertubi-tubi tersebut selalu mudah dipatahkan karena ketatnya pertahanan PSIM.

Meskipun cenderung menerapkan strategi bertahan, PSIM justru berhasil memperbesar keunggulan melalui tendangan terukur Hasan Basri di dalam kotak penalti memanfaatkan kelengahan barisan belakang Persiku yang tidak siap menghadapi serangan balik yang cepat pada menit ke-70.

Pada pertandingan tersebut, wasit Djumadi Effendi mengeluarkan satu kartu kuning untk pemain Persiku.

Menanggapi kekalahan 1-3, Pelatih Persiku Kudus Welly Podungge menganggap kegagalan anak asuhnya karena belum mampu melepaskan diri dari tekanan lawan sepanjang pertandingan.

Sementara itu, pelatih PSIM Yogyakarta Jefri Janes mengatakan, kemenangan timnya merupakan kerja keras para pemain yang berhasil menerapkan strategi tim sejak awal.

“Padahal, pada babak pertama, pemain sempat grogi. Tetapi, hal ini memang menjadi strategi kami untuk menjajagi kekuatan lawan. Selanjutnya, para pemain diinstruksikan menerapkan pola serangan,” ujarnya.

Terkait dengan alasan kekalahan tuan rumah karena didominasi pemain lokal, katanya, pemain PSIM juga didukung pemain lokal semua.

Penalti Kwateh Pupus Ambisi PSIM

Gol yang dihasilkan Roberto kwateh lewat rendangan penalti pada menit 56 memupuskan ambisi PSIM Yogyakarta untuk mencuri poin dari tuan rumah PSIR Rembang dan harus menelan kekalahan 1-0 dalam mengakhiri putaran pertama Kompetisi Liga Utama 2008-2009 di stadion Krida Rembang, kamis (18/12)

Bukan itu saja , PSIM juga harus kehilangan kapten kesebelasan Mashadi di putaran II nanti karena mengalami patah tulang kaki kering kaki kirinya pada menit 40 dan harus dilarikan ke RSU Dr Soetrasno Rembang. Setelah di rontgen dan positif mengalami patah tulang Mashadi pun langsung dibawa ke Yogya.

Setelah Mashadi keluar, pelatih PSIM Bambang KW memasukkan pemain tengah Ardiyanto dan furqon yang semula beroperasi di tengah, ditarik ke belakang untuk mengisi posisi Mashadi di stopper.

Bambang KW sesuai pertandingan, mengecam keras tindakan Roberto Kwateh yang sengaja mencederai kaki Mashadi, hingga mengalami patah tulang. Bambang menyebut Kwateh yang sebelumnya pernah membela PSIM, terlalu banyak tingkah karena menjadi pujaan supporternya.

Bambang juga mengecam kepemimpinan wasit Iwan asal Tulungagung yang memberi hadiah penalti pada tuan rumah, padahal pemain lawan jatuh sendiri saat menggiring bola di kotak penalti. Furqon memang menghadangnya namun belum sempat menyentuh pemain yang jatuh sendiri itu. Biasanya saya enggan mengomentari wasit, tapi ini sudah keterlaluan. keluh Bambang

  • yang mampir

    • 1,518,546 sejak 01/01/2009
  • dipilih,,,dipilih,,,




  • RSS Umpan yang Tidak Diketahui

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.